Sabtu, 14 Maret 2020

Journey Sapih

Sapih, adalah proses mengharukan yang membutuhkan tekat kuat dan usaha maksimal agar hasil dan usaha tak sia-sia.

Seperti halnya dalam Al-Quran surah Al-Baqarah:233;
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya".

Awalnya, sudah saya rencanakan 1 bulan sebelum 2 tahun, mas Arshaq bisa di training dengan pengurangan intensitas menyusui. Qodarullah, di bulan dimana dia menginjak usia 2 tahun, mas Arshaq sakit, dia panas dan setelah itu bapil pun datang. Ga berhenti sampai disitu saja, setelah bapil hilang, dia mulai GTM atau gerakan tutup mulut. Dia ga mau makan apapun, bahkan yang biasanya ngemil pun ga mau sama sekali. Di buatkan berbagai macam jenis makan pun cuma berapa suap dan udah. Akhirnya BAB nya agak bermasalah karna penyerapan di usunya g sempurna.

Kejadian ini hampir 1 bulan berlangsung. Bahkan tekstur BAB nya bikin saya khawatir. 2x berobat pun hanya dikasih vitamin suplemen makanan dan obat racikan untuk alergi.

Berobat yang ke 3x nya pun hanya dikasih zink untuk memperbaiki pencernaannya.

Tapi dengan bermodalkan ikhtiar dan doa kepada Allah, bismillah. Saya dan suami mulai menyapih mas Arshaq.
Prosesnya terbilang mudah saat ada ayahnya terutama. Kala itu hari Rabu, tanggal 26 Februari 2020 dimana mas Arshaq sudah hampir berusia 25 bulan.

Karna ketika banyak aktivitas di pagi siang nya, mas Arshaq pun engga mimik bundanya. Dan malam pun dia terlalu lelah hingga akhirnya tertidur dengan sendirinya bersama ayahnya.

Dan masya allah, ketika itu ayahnya baru libur jadi sangat memudahkan saya untuk menghindari mas Arshaq ketika jam malam bobok. Dengan ditemani ayah dan membacakan buku-buku Little Abid bersama Hafiz Pen, sapih pun berjalan mulus.

Namun, ga cukup semudah itu. Hari dimana ayah harus kembali kerja menjadi tantangan tersendiri buat saya. Dimana ketika jam waktu tidur malam dengan metode yang sama, mas Arshaq ga mempan. Masih inget aja untuk minta mimik bunda. Apalagi ketika jam tidur siang. Akhirnya ketika siang saya ajak muter-muter sebentar pun tidur. Malam pun tidur dengan di timang-timang terlebih dahulu.

Kemudahan itu ga selalu mulus. Adakalanya sudah dibacain buku, di timang-timang di gendong pun masih belum mau merem, minta mimik bunda terus, di sounding dengan berbagai macam cara. Dan tak lupa selalu menyertakan Allah dalam tiap usahanya.

Karna saya percaya, Allah akan memberikan rasa percaya diri dan mandiri kepada mas Arshaq di waktu yang tepat. Dia hanya berusaha dan menbiasa untuk bisa percaya pada dirinya bahwa mas bisa bobo bahkan tanpa mimik bunda lagi. Karna dia udah gede, karna Allah sayang sama mas dan bunda. So mas dan bunda harus dengerin perintah Allah.

Selalu saya ulang-ulang perintah Allah ini. Bahkan sampai sekarangpun masih selalu saya sounding dan tanamkan dengan nilai-nilai positif yang dia dapat dari membaca atau karena Allah.

Ini adalah salah satu nikmat yang saya rasakan sebagai seorang ibu. Bahagia itu sederhana. Ketika kita masih bisa mendekap erat buah hati dengan bonding yang sedemikian rupa, harus segera kita istirahatkan dengan cara bonding yang lebih tinggi tingkatnya.

Masya allah, luar biasa sekali untuk menjadi ibu yang sabar. Jika kita menyapih tanpa tekat kuat dan kesabaran, hanya akan merasa sedih, ga tega, kasihan saat anak menangis meronta ingin ada di buaian sang bunda lagi.



Yogyakarta,
14 Maret 2020

Sabtu, 07 Maret 2020

Overview Fitrah Based Education

Overview Fitrah based Education (Pendidikan berbasis Fitrah)


oleh: Ust. Harry Santosa


Mengapa pendidikan harus berbasis kepada fitrah? 
 1. Manusia dilahirkan secara alami dalam keadaan fitrah (disposition of nature). Dalam definisi lain, fitrah disebut innate goodness (bawaan baik) dan orangtua tidak boleh merubahnya, baik sengaja karena obsesi, maupun tidak sengaja karena lalai.

Diantara bawaan baik (innate goodness) Fitrah itu adalah bawaan berupa Tauhid atau Islam sejak dilahirkan. Sejak lahir manusia sudah bertauhid atau berIslam sebagaimana QS alAraf (7):172. 

Maka orangtua sekali lagi dilarang menyimpangkannya. Ini juga bermakna bahwa mendidik anak menjadi shalih (Islam atau bertauhid) seharusnya lebih mudah daripada mendidik anak menjadi tidak shalih (selain islam atau tidak bertauhid).

Mendidik berbasis fitrah secara otomatis adalah mendidik anak berbasis kepada Aqidah Islam atau Tauhid. Banyak ulama mendefinisikan fitrah sebagai Islam atau berTauhid atau juga kesiapan untuk menerima Dienul Islam. 

Prof. Justin Barret dalam bukunya "Baby born Believer" menyatakan bahwa jika ada anak sejak lahir ditempatkan dalam sebuah pulau, tanpa intervensi apapun dari orangtua maupun lingkungan, maka dipastikan menjadi orang yang beriman (percaya kepada Tuhan). 

2. Fitrah, sebagaimana yang ditulis oleh Prof Dr Muhammad Yasien, adalah the Islamic concept of human nature. Kata fitrah maupun istilah yang serupa belum pernah dikenal oleh agama sebelumnya.

Penyebab rusaknya agama agama sebelum Islam adalah menganggap ada sifat Tuhan dalam diri manusia atau menitisnya Tuhan dalam diri manusia (manunggaling kawulo gusti).

Begitupula penyebab rusaknya sistem pendidikan modern adalah menolak adanya fitrah dalam diri manusia, dan menganggap manusia kertas kosong (blank slate).

Di era post modernisme, konsep "blank slate" sudah ditolak dan digantikan dengan "otak atik otak" dan diversifikasi kecerdasan, namun esensinya masih menolak fitrah atau jiwa manusia.

Penolakan bahwa manusia memiliki jiwa, menyebabkan rancangan konsep dan praktek pendidikan tidak pernah menyentuh jiwa manusia, maka lahirlah orang orang cerdas yang tak punya jiwa, mereka bergerak mekanistik dan robotik tanpa ruh.

Hari ini dunia menyesali sistem pendidikan mereka selama ini hanya melahirkan "human thinking" dan "human doing" bukan "human being". Riset selama 15 tahun terhadap 19 orang alumni terbaik angkatan 90an di Harvard membuktikan bahwa manusia cerdas tanpa jiwa ini hanya menyengsarakan manusia termasuk dirinya sendiri dan alam semesta. 

Ini sesungguhnya tragedi kemanusiaan ketika manusia menjadi penyebab krisis alam dan krisis kehidupan.

Human Being atau manusia seutuhnya (insan kamil) hanya bisa dilahirkan melalui pendidikan yang berangkat dari Human Nature. 

Penolakan atas adanya human nature (fitrah) jelas memunculkan pendidikan yang tidak melahirkan manusia seutuhnya (insan kamil atau human being atau perfect man).

Maka pendidikan manusia harus berbasis kepada fitrah manusia itu sendiri untuk dididik, sejak dirawat sampai ditumbuhkan dan dikokohkan sehingga menjadi manusia seutuhnya. 


3. Di dalam alQuran, kata "fitrah" dalam bentuk "fi'lah" hanya disebut satu kali di QS arRum (30):30, padahal fitrah ini sangat penting apabila dikaitkan dengan fungsi dan misi penciptaan manusia. Ini sekaligus membuktikan bahwa pembahasan fitrah merupakan bahasan yang "urgent & important".

Manusia diciptakan bukan kebetulan, namun dengan maksud penciptaan (the purpose of life), yaitu untuk Beribadah kepada Allah semata dan untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

Maksud penciptaan adalah alasan Allah menghadirkan manusia, namun manusia tentu diciptakan dengan tugas masing masing yang berbeda satu sama lain. Tugas inilah yang disebut the mission of life, yaitu peran spesifik manusia selama di dunia. Inilah panggilan hidup manusia yang harus dijalaninya dengan ikhlash dan jujur.

Darimana kita mengetahui tugas spesifik atau peran spesifik yang merupakan panggilan hidup kita? Jangan khawatir, semua tugas itu secara konsepsi dan potensi telah diinstal dalam diri kita, itulah yang disebut Fitrah.

Fitrah dalam makna lain disebut "alIbtida" yaitu ciptaan unik yang belum pernah dibuat sebelumnya. Keunikan inilah sesungguhnya yang diinstal dan harus dididik agar kelak menjadi peran unik dalam peradaban.

Pendidikan yang tidak berangkat dari fitrah manusia dalam makna ini akan gagal melahirkan generasi yang memiliki peran spesifik terbaik dalam peradaban.

Prof Sir Ken Robinson mengatakan bahwa hanya 2 dari 10 orang di dunia yang jujur pada peran yang sesuai panggilan hidupnya. Ini menyebabkan banyak orang bekerja tidak bahagia dan tidak berkinerja baik.

Depresi, bunuh diri, narkoba, LGBT dll juga disebabkan karena kegalauan manusia yang tidak dididik untuk mencapai peran peradaban sesuai fitrahnya.

Jika seseorang gagal dididik untuk menemukan peran spesifiknya maka tidak akan memenuhi maksud penciptaannya di muka bumi sebagai Hamba Allah dan Khalifah Allah. Maka penting bagi pendidikan untuk berangkat dari fitrah manusia. 

 Salam Pendidikan Peradaban 

 #fitrahbasededucation #pendidikanberbasisfitrah

Selasa, 11 Februari 2020

Wanita, anak sholiha

Kajian BD 7 Masjid WTC Sudirman 9 Februari 2020
*Wanita Mulia Di Dunia dan Akherat*
*Ustadzah Aini* 

 *_"Menjadi wanita mulia bukan pilihan, melainkan keharusan. Maka jagalah kehormatan diri."_* 
Jangan sampai kita menjadi wanita nusyuz, yaitu seorang istri yg tidak mentaati perintah suami. Pembicaraan bolehkah istri bekerja setelah menikah, kuliah, dsbnya itu sebaiknya sudah selesai di meja khitbah. Antara calon suami dengan bapak calon istri. Karena kalau hanya berdua dengan calon istri, laki2 itu mudah berjanji tapi sulit menepati. Yang dimaksud dengan khitbah adalah yg laki2 menghampiri wali perempuannya. Bukan laki2 langsung ke perempuannya, itu namanya rayuan. Harta suami milik suami, tapi di dalamnya ada kewajiban untuk menafkahi istri dan anak2. 

*Dalam islam, seorang wanita tidak wajib menafkahi siapapun termasuk dirinya sendiri.*
Sedekah sama suami, bisa sedekah tenaga yaitu melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Karena pekerjaan domestik itu sebenarnya bukan kewajiban istri, tapi suami. Tapi bukan berarti karena tidak wajib, maka kita ga merasa perlu mengerjakannya. Banyak peluang pahala dalam kehidupan rumah tangga. Kita juga bisa sedekah materi, yaitu membantu beberapa kebutuhan rumah tangga. Misal bantu bayar listrik, dsbnya. Kewajiban suami, menafkahi istri dan anak yaitu pemenuhan, kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan). *Standar mahar yg paling baik adalah yg memudahkan calon suami.* Bukan yang murah. Karena mudah untuk A, belum tentu mudah untuk B. Wanita boleh bekerja tapi harus seizin suaminya. Sesuai batasan syariat islam, yaitu tidak membuka aurat, dan tidak campur baur dengan laki2 yg bukan mahrom. Lakukan hal2 yg menyenangkan hati suami, meskipun tidak wajib.

*Peran perempuan sbg anak*
Kewajiban: Menjaga kehormatan diri dan keluarganya. *Karena laki2 biasanya dinilai dari masa depannya, tapi perempuan dinilai dari masa lalunya.* Maka jaga diri kita.. jaga kehormatan kita.. 

*Hak anak:*
Dinafkahi, dididik, dinikahkan. Kalau ayahnya murtad, meninggal dunia, atau hilang.. baru seorang ayah tidak wajib menjadi wali. 

*Urutan Wali:*
1) Ayahnya ayah (kakek)
2) Saudara laki2 kandung (seayah seibu) 
3) Sodara laki2 yg seayah, tp beda ibu. Saudara laki2 seibu ga bisa jadi wali. 
4) Paman kandung (dari ayah). Maksudnya, saudara laki2 ayah yg seayah seibu. Atau seayah aja. 
5) Ponakan laki2. Maksudnya, anak laki2 dari saudara laki2 seayah seibu. Atau seayah aja. 
6) Sepupu laki2 (dari ayah) Maksudnya, anak laki2 dari saudara laki2 ayah yg seayah seibu. Atau seayah aja. Sepupu ini meski bukan mahrom, tp bisa menjadi wali. 
7) Wali Hakim.
Wali hakim itu siapa? KUA yang sedang menjabat. Tidak bisa mantan KUA. Wali harus sudah baligh dan jg rasyid (dewasa). Wali itu hanya mengizinkan. Tidak wajib hadir dalam akad pernikahannya, karena bisa diwakilkan. Misal, seorang anak yg orangtuanya sudah lama berpisah dan selama ini tinggal sama ibunya. Saat ingin menikah, dia tetap harus mencari ayahnya. Untuk meminta izin menikah. Tapi kalau ayahnya tidak mau datang ke acara akad utk menikahkan anaknya, itu gapapa. Selama ayahnya mengizinkan, maka ayahnya bisa mewakilkan ke urutan wali lain, atau wali hakim. 
Misal lagi, seorang anak hasil dari hamil di luar nikah. Kan sudah tidak bernasab dgn ayah biologisnya. Maka walinya adalah wali hakim. Tapi ayah biologisnya ingin datang menikahkan anaknya. 
Maka solusinya, bisa dgn cara wali hakim mewakilkan dirinya ke ayah biologis tsb untuk menikahkan. 
 Ingat, *Suami itu bisa disentuh hatinya.* *Bisa jg disentuh akalnya.* Tinggal kita perhatikan suami kita.. yg mana yg lebih mendominasi. Logikanya atau perasannya (empatinya). 
Cari cara komunikasinya yang sesuai. Jagalah kehormatan kita, karena wanita dinilai dari masa lalunya. Jangan mau jadi wanita yang dicampakkan atau dilecehkan oleh lawan jenis yg tidak halal buat kita. 

*Kalau sudah jadi istri, jaga kehormatan suami.* Jangan suka posting2 sesuatu yang tidak menyenangkan hati suami di medsos. Karena curhat yang terburuk itu di medsos. Jangan pernah sedikitpun jempol kita menyebutkan keburukan suami kita atau anak2 kita, keluarga kita. 
Walaupun sudah bercerai sekalipun. Jangan bongkar keburukan mantan suami di medsos, dimanapun. Karena sampai kapan pun dia adalah ayah dari anak2 kita. Kalaupun kita membenci dia, jangan sampai kita buat anak2 kita jg membenci dia. Kenapa? Dengan kebencian itu, anak2 kita jadi kehilangan tauladannya. Kasian anak2 kita.. Kalau ada yang menyakiti, jangan dibalas dengan keburukan. Kenapa? Karena kalau begitu sama aja dong kita sama dia di mata Allah. 

*Jadilah wanita mulia, yang membalas keburukan dengan kebaikan.*