Kamis, 26 Maret 2020

Why Must Bullying

Anak Di"Bully"

(just repost)

Seorang adik kelas di SMA, sekarang jadi artis pemusik sukses terkenal, pernah bercerita bahwa dia dulu suka dibully bahkan pernah "diseret dan digebukin" di "warung" belakang sekolah. Itu warung memang warung kebanggaan para pembully yang merasa menjadi elite dan merasa dirinya penguasa sekolah. Anak anak sok bandel juga disitu "ngetem" nya.

Karenanya, artis itu sebel banget kalau adik adik SMA nya datang ke tempatnya untuk menagih "sumbangan alumni". Dia dengan sewot bilang, "Wong saya ga bangga kok sekolah di situ".

Sepotong cerita di atas mungkin membawa kita melayang layang ke masa di SMA, bisa jadi ada cerita yang sama. Kisah di atas bisa mengalirkan banyak analisa dan imajinasi di kepala kita, apalagi bagi mereka yang anaknya juga mengalami pembullyan.

Teman seangkatan saya di SMA belum lama juga curhat, anaknya mogok sekolah karena di bully. Usianya padahal sudah 15 tahun. Empati punya empati, teman saya bercerita bahwa anaknya itu super sensitif, moody atau istilah sekarang "baperan".

Hmm kesimpulan cepatnya bahwa ternyata memang karakteristik personality seperti "seniman" yang melow, sensitif, baperan dsbnya umumnya sangat rentan dibully.

Sebenarnya "sifat seniman" itu "gue banget", hanya saja dulu saya masih lumayan rasional, jadi mensiasati dengan masuk Club Tae Kwondo lalu otomatis menjadi Sie Keamanan di OSIS, nah selesai masalahnya. Siapa sih yang berani membully Sie Keamanan? Wong orang orang di sie keamanan ini yang suka membully kok. ;-)

Ada nasehat bagus untuk para penjahat, bahwa persembunyian terbaik adalah di kantor polisi. Nasehat yang sama untuk para polisi, bahwa persembunyian terbaik ada di kantor penjahat. Just kidding!

Ayah Bunda yang baik,

Tentu analisa di atas, bahwa karakteristik seniman mudah di bully, sebenarnya hanya temuan awal, kita harus menggali lebih jauh lagi, lebih empati dan mengakar tentunya.

Dalam banyak kasus Bully yang terjadi, umumnya para penasehat langsung meloncat ke solusi tanpa menggali akar masalahnya lebih empati, misalnya mereka menasehati bahwa anak yang dibully disuruh berani melawan, orangtua mendatangi sekolah untuk mendorong sekolah membuat aturan ketat atau orangtua pembully disidang dan si pembully diancam dikeluarkan dstnya.

Solusi seperti di atas akan menimbulkan masalah baru lagi. Jadi teringat PT KAI, beberapa tahun lalu penumpang KRL Jabodetabek terkenal sangat hobby duduk di atas atap kereta.

Lalu PT KAI fokus dan sibuk pada masalahnya. Solusinya tidak mengakar, mereka menugaskan Polisi Khusus untuk menghalau mereka yang duduk di atas atap kereta, memasang kawat berduri di atas peron, untuk menutup celah para pemanjat atap kereta, memberi sangsi dan hukuman keras bagi yang tertangkap dstnya.

Walhasil para penganut Sekte Atap Kereta makin berani, tidak ada yang jera dengan hukuman. Jangankan hukuman, bahkan kematian para alumninya karena tersambar listrik, terowongan maupun billboard tidak juga membuat mereka jera.

Belakangan PT KAI tidak lagi disibukkan dengan masalahnya, tetapi fokus pada kebutuhan pelanggan. Ooo... ternyata pelanggan menginginkan kereta yang bersih, nyaman, aman, tepat waktu, sejuk ber AC dll termasuk stasiunnya.

Ketika PT KAI fokus pada potensinya dan kebutuhan pengguna, lihatlah hari ini, para penumpang emoh di atap kereta, lha wong di dalam sejuk, nyaman, bersih, tepat waktu dan murah pula.

PT KAI telah kembali kepada "fitrah"nya sebagai transportasi massal yang ramah, cepat, nyaman, aman, bersih, tepat waktu, maka kemudian selesailah semuanya. 

Ayah bunda yang baik,

Ketika segala sesuatu kembali kepada fitrahnya maka akan kembali damai dan harmoni.
Kaidahnya "Masalahmu bukan di luar sana tetapi ada di dalam kepalamu dan diseputar dirimu"
"Fokuslah pada potensinya bukan pada masalahnya"

Sesungguhnya anak anak yang rentan atau mudah dibully atau anak yang suka membully, memiliki

1. Sifat Unik tertentu yang menyebabkan mudah dibully atau mudah membully. Ingat bahwa sifat unik ini merupakan kelemahan sekaligus kekuatannya. Anak yang memang memiliki sifat super sensitif atau empati yang sangat tinggi umumnya mudah di bully. Sebaliknya anak yang punya sifat unik mendominasi orang lain atau suka memimpin umumnya sangat mudah membully.

--> Berikan peran yang menyalurkan sifat unik ini menjadi aktifitas produktif

2. Masalah supply maskulinitas dan feminitas dari orangtuanya. Kekurangan supply Ego dari ayah atau Supply Empaty dari ibu menyebabkan masalah pada ketidak seimbangan ego dan empati. Walaupun ada anak yang sejak kecil punya sifat unik sangat ego, atau sangat empati, mereka tidak akan mudah dibully atau menjadi pembully jika mendapat supply ego yang cukup dari Ayah dan supply empaty yang cukup dari ibunya selama masa anak anaknya.

--> Berikan sosok Ayah dan sosok Ibu yang memberikan supply seimbang

3. Ego Sentris atau Fitrah Individualitas yang tak tumbuh baik ketika berusia di bawah 7 tahun juga menyebabkan ananda kelak menjadi peragu dan mudah dibully.

--> Beri pengakuan dan tanggungjawab secara bertahap untuk mengembalikan eksistensi dirinya

Jadi kembalilah kepada fitrah, maka InsyaAllah semuanya akan kembali cerah.

Fokuslah pada cahaya, kelak kegelapan kan sirna. Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Minggu, 22 Maret 2020

Belajar Dari Sebuah Jam 

TERJADI dialog antara pembuat jam dengan jam yang sedang dibuatnya.
Pembuat jam berkata, “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak sebanyak 31.536.000 (Tiga puluh satu juta lima ratus tiga puluh enam ribu) kali dalam setahun?”,

jam itu tersentak, “Enggak mungkinlah saya berdetak sebanyak itu!?”

“Baiklah, bagaimana kalau 86.400 (delapan puluh enam ribu empat ratus) kali dalam sehari?” tawar pembuat jam.

“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang kecil-kecil begini?” jawab jam penuh keraguan.

“Kalau begitu cukup berdetak 3.600 (tiga ribu enam ratus) kali dalam satu jam, pasti kamu sanggup!” pinta si pembuat jam lagi.

“Sepertinya saya masih belum sanggup berdetak sebanyak itu dalam sejam.” Jam masih saja bimbang dengan kemampuannya.

Akhirnya si pembuat jam berkata, “Sudahlah, sanggupkah kamu berdetak satu kali saja setiap detik?”

Jam itu sontak menjawab, “Naah, kalau cuma sekali sedetik sih aku sanggup, kapan aku mulai bekerja?”.

“Sekarang!”, seru pembuat jam.

Setelah selesai dibuat, jam itu pun berdetak satu kali setiap detik. Lalu berdetak terus sampai 3.600 kali dalan satu jam. Berlanjut lagi sampai 86.400 kali dalam sehari. Dan tanpa terasa jam itu telah berdetak 31.536.000 kali dalam setahun.

Hikmah dan Pelajaran Belajar dari jam,

kadangkala kita ragu terhadap tugas dan pekerjaan yang kita anggap terlalu berat untuk dilakukan, padahal kita belum mencobanya.

Karena itu jangan pernah berkata ‘tidak bisa’ terhadap setiap pekerjaan yang kita anggap berat dan sulit.

Sebenarnya kita hanya butuh keberanian untuk mencoba, selanjutnya semua berjalan dan mengalir seperti air.

Banyak gagasan dan pekerjaan besar yang terasa berat untuk dimulai. Maka cobalah memulai dari hal yang kecil dan ringan.

Kemudian mulailah membangun sistem dan mekanisme kerja yang baik agar segala sesuatunya berjalan dengan maksimal dan agar keberhasilan itu juga berguna bagi orang-orang di sekitar kita.

Sabtu, 21 Maret 2020

Lubabah Kubra

Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits - Wanita Muslim pemberani Yang Memukul Abu Lahab

Muhamad Nurdin Fathurrohman 1:48:00 PM
Artikel "Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits - Wanita Muslim pemberani Yang Memukul Abu Lahab" adalah bagian dari seri "Kisah Shahabiyah - Sahabat nabi perempuan" kaktus Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits bin Hazn bin Bujair bin Al-Hazm bin Ru’aibah bin Abdillah bin Hilal bin ‘Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin ‘Ikrimah bin Khashfah bin Qais bin ‘Ailan bin Mudhar Al-Hilaliyah. Ia lebih dikenal dengan kunyah yang diambil dari nama putra pertamanya, Al-Fadhl, sehingga sebutannya adalah “Ummul Fadhl”. Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits adalah wanita yang sangat pemberani, ialah wanita yang pernah memukul Abu lahab sampai sakit hingga meninggal. 

Ibunya bernama Hindun binti ‘Auf bin Zuhair bin Al-Harits bin Himathah bin Dzi Halil. Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keiman­an­nya oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keempat wa­nita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl, Asma‘, dan Salma. Maimunah adalah Ummul Mu’minin RA, saudara kandung Ummu Fadhl. Sedangkan Asma‘ dan Salma adalah kedua saudari dari pihak ayahnya.

Ia bersaudara dengan wanita yang memiliki kemuliaan. Saudara-saudara sekandungnya seluruhnya perempuan. Mereka adalah Maimunah, istri Rasulul­lah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Lubabah Ash-Shughra binti Al-Harits, istri Al-Walid bin Al-Mughirah, yang melahirkan “Si Pedang Allah”, Khalid ibnul Walid RA, ‘Ishmah, ‘Izzah, dan Huzailah. Sementara saudara perempuannya seibu adalah Asma binti ‘Umais RA, pendamping “Sang Pemilik Dua Sayap”, Ja’far bin Abi Thalib RA, yang sepeninggal Ja’far menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, kemudian dengan ‘Ali bin Abi Thalib RA setelah Abu Bakar tiada.

Ummu Fadhl adalah istri Abbas, paman Rasulullah SAW. Abbas adalah salah seorang sahabat yang pertama masuk Islam. Namun, Abbas merahasiakan keislamannya. Hal ini diungkapkan oleh Abu Rafi, pelayan Abbas: “Ketika Islam datang, Abbas memeluk agama Islam lalu diikuti oleh Ummu Fadhl dan saya. Namun Abbas merahasiakan keislamannya.” Karena itu ketika hijrah Ke Madinah, Abbas dan Ummu Fadhl tetap tinggal di Mekah untuk memantau perkembangan Mekah.

Pernikahan Abbas dan Ummu Fadhl berbuah 6 orang anak lelaki yang mulia. Mereka adalah Fadhl, Abdullah, Ubaidullah, Mabad, Qatsam dan Abdul Rohman. Abdullah bin Abbas, yang kemudian dikenal sebagai Ibnu Abbas, merupakan sahabat yang terkemuka yang banyak meriwayatkan hadits shahih.   

Ketika Rasulullah SAW mulai mendakwahkan Islam, Ummu Fadhl adalah wanita yang pertama kali beriman sesudah Khadijah binti Khuwailid RA. Ia turut berhijrah ke Madinah setelah ber­islamnya Al-’Abbas, sang suami.

Ummu Fadhl termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di ka­langan para wanita. Rasulullah SAW sering mengunjunginya dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Peristiwa pemukulan Abu lahab oleh Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits 

Ummu Fadhl memiliki keberanian yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika setelah perang Badar Ummu Fadhl tengah memperhatikan budaknya, Abu Rafi', memahat batu di dekat sumur Zamzam. Tiba-tiba datang Abu Lahab duduk pula di situ. Abu Lahab tidak berangkat pada Perang Badar dan mewakilkannya pada Al-’Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah, sebagaimana kebiasaan pada waktu itu.

Saat itu orang-orang memperbincangkan tentang kekalahan kaum musyrikin pada perang Badar melawan kaum muslimin. Ketika Abu Sufyan tiba sekembalinya dari Badar, Abu Lahab berkata, “Datanglah ke sini anak saudaraku, sampaikan kepadaku berita dari Badar.” Maka orang-orang pun mengerumuni Abu Sufyan.

Abu Sufyan berkata, "Demi Allah tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah sekalipun demikian tatkala aku menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah.” 

Abu Rafi' yang mendengar cerita itu spontan berteriak, “ Demi Allah, itu adalah malaikat”. Mendengar ucapan Abu Rafi', tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangan dan memukul Abu Rafi' dengan kasar. Badan Abu Rafi' di tarik, dijatuhkan ke tanah dan Abu Lahab memukulinya.

Melihat hal itu, Ummu Fadhl mengambil tiang kemah yang menaungi Abu Sufyan dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga berdarah. Akibat kejadian itu Abu Lahab terluka parah, baik secara fisik maupun mental karena dia menanggung malu yang teramat sangat.

Abu Lahab sempat meminta tolong pada beberapa orang yang ada di sekitarnya. Tetapi tidak ada yang berani membela karena Ummu Fadhl tampak sangat marah. Sejarah mencatat bahwa setelah kejadian itu, Abu Lahab mengalami sakit selama 7 hari dan setelah itu dia meninggal dunia karena penyakit bisul bernanah.

Begitulah contoh pribadi seorang muslimah yang pemberani. Keimanan yang melekat erat dalam hati telah membuat Ummi Fadhl tidak berdiam diri ketika melihat tindak aniaya.

Jumat, 20 Maret 2020

Bidadari Syurga

(♥) 12 kata "JANGAN MENUNGGU" yg perlu dihindari (♥) 
••► Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.

••► Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

••► Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

••► Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dgn orang lain! Maka kamu akan dipedulikan

••► Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dgn kamu.

••► Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dlm tulisanmu.

••► Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.

••► Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.

••► Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dgn tenang. Percayalah bukan sekadar uang yg datang tapi juga rejeki yg lainnya.

••► Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.

••► Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

••► Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa! Dan,,, Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kpd smua orang yg anda kenal,,, sehingga kita smua tersadar

 "LIFE IS SO BEAUTIFUL if we can enjoy it with ourself"

Sabtu, 14 Maret 2020

Journey Sapih

Sapih, adalah proses mengharukan yang membutuhkan tekat kuat dan usaha maksimal agar hasil dan usaha tak sia-sia.

Seperti halnya dalam Al-Quran surah Al-Baqarah:233;
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya".

Awalnya, sudah saya rencanakan 1 bulan sebelum 2 tahun, mas Arshaq bisa di training dengan pengurangan intensitas menyusui. Qodarullah, di bulan dimana dia menginjak usia 2 tahun, mas Arshaq sakit, dia panas dan setelah itu bapil pun datang. Ga berhenti sampai disitu saja, setelah bapil hilang, dia mulai GTM atau gerakan tutup mulut. Dia ga mau makan apapun, bahkan yang biasanya ngemil pun ga mau sama sekali. Di buatkan berbagai macam jenis makan pun cuma berapa suap dan udah. Akhirnya BAB nya agak bermasalah karna penyerapan di usunya g sempurna.

Kejadian ini hampir 1 bulan berlangsung. Bahkan tekstur BAB nya bikin saya khawatir. 2x berobat pun hanya dikasih vitamin suplemen makanan dan obat racikan untuk alergi.

Berobat yang ke 3x nya pun hanya dikasih zink untuk memperbaiki pencernaannya.

Tapi dengan bermodalkan ikhtiar dan doa kepada Allah, bismillah. Saya dan suami mulai menyapih mas Arshaq.
Prosesnya terbilang mudah saat ada ayahnya terutama. Kala itu hari Rabu, tanggal 26 Februari 2020 dimana mas Arshaq sudah hampir berusia 25 bulan.

Karna ketika banyak aktivitas di pagi siang nya, mas Arshaq pun engga mimik bundanya. Dan malam pun dia terlalu lelah hingga akhirnya tertidur dengan sendirinya bersama ayahnya.

Dan masya allah, ketika itu ayahnya baru libur jadi sangat memudahkan saya untuk menghindari mas Arshaq ketika jam malam bobok. Dengan ditemani ayah dan membacakan buku-buku Little Abid bersama Hafiz Pen, sapih pun berjalan mulus.

Namun, ga cukup semudah itu. Hari dimana ayah harus kembali kerja menjadi tantangan tersendiri buat saya. Dimana ketika jam waktu tidur malam dengan metode yang sama, mas Arshaq ga mempan. Masih inget aja untuk minta mimik bunda. Apalagi ketika jam tidur siang. Akhirnya ketika siang saya ajak muter-muter sebentar pun tidur. Malam pun tidur dengan di timang-timang terlebih dahulu.

Kemudahan itu ga selalu mulus. Adakalanya sudah dibacain buku, di timang-timang di gendong pun masih belum mau merem, minta mimik bunda terus, di sounding dengan berbagai macam cara. Dan tak lupa selalu menyertakan Allah dalam tiap usahanya.

Karna saya percaya, Allah akan memberikan rasa percaya diri dan mandiri kepada mas Arshaq di waktu yang tepat. Dia hanya berusaha dan menbiasa untuk bisa percaya pada dirinya bahwa mas bisa bobo bahkan tanpa mimik bunda lagi. Karna dia udah gede, karna Allah sayang sama mas dan bunda. So mas dan bunda harus dengerin perintah Allah.

Selalu saya ulang-ulang perintah Allah ini. Bahkan sampai sekarangpun masih selalu saya sounding dan tanamkan dengan nilai-nilai positif yang dia dapat dari membaca atau karena Allah.

Ini adalah salah satu nikmat yang saya rasakan sebagai seorang ibu. Bahagia itu sederhana. Ketika kita masih bisa mendekap erat buah hati dengan bonding yang sedemikian rupa, harus segera kita istirahatkan dengan cara bonding yang lebih tinggi tingkatnya.

Masya allah, luar biasa sekali untuk menjadi ibu yang sabar. Jika kita menyapih tanpa tekat kuat dan kesabaran, hanya akan merasa sedih, ga tega, kasihan saat anak menangis meronta ingin ada di buaian sang bunda lagi.



Yogyakarta,
14 Maret 2020

Sabtu, 07 Maret 2020

Overview Fitrah Based Education

Overview Fitrah based Education (Pendidikan berbasis Fitrah)


oleh: Ust. Harry Santosa


Mengapa pendidikan harus berbasis kepada fitrah? 
 1. Manusia dilahirkan secara alami dalam keadaan fitrah (disposition of nature). Dalam definisi lain, fitrah disebut innate goodness (bawaan baik) dan orangtua tidak boleh merubahnya, baik sengaja karena obsesi, maupun tidak sengaja karena lalai.

Diantara bawaan baik (innate goodness) Fitrah itu adalah bawaan berupa Tauhid atau Islam sejak dilahirkan. Sejak lahir manusia sudah bertauhid atau berIslam sebagaimana QS alAraf (7):172. 

Maka orangtua sekali lagi dilarang menyimpangkannya. Ini juga bermakna bahwa mendidik anak menjadi shalih (Islam atau bertauhid) seharusnya lebih mudah daripada mendidik anak menjadi tidak shalih (selain islam atau tidak bertauhid).

Mendidik berbasis fitrah secara otomatis adalah mendidik anak berbasis kepada Aqidah Islam atau Tauhid. Banyak ulama mendefinisikan fitrah sebagai Islam atau berTauhid atau juga kesiapan untuk menerima Dienul Islam. 

Prof. Justin Barret dalam bukunya "Baby born Believer" menyatakan bahwa jika ada anak sejak lahir ditempatkan dalam sebuah pulau, tanpa intervensi apapun dari orangtua maupun lingkungan, maka dipastikan menjadi orang yang beriman (percaya kepada Tuhan). 

2. Fitrah, sebagaimana yang ditulis oleh Prof Dr Muhammad Yasien, adalah the Islamic concept of human nature. Kata fitrah maupun istilah yang serupa belum pernah dikenal oleh agama sebelumnya.

Penyebab rusaknya agama agama sebelum Islam adalah menganggap ada sifat Tuhan dalam diri manusia atau menitisnya Tuhan dalam diri manusia (manunggaling kawulo gusti).

Begitupula penyebab rusaknya sistem pendidikan modern adalah menolak adanya fitrah dalam diri manusia, dan menganggap manusia kertas kosong (blank slate).

Di era post modernisme, konsep "blank slate" sudah ditolak dan digantikan dengan "otak atik otak" dan diversifikasi kecerdasan, namun esensinya masih menolak fitrah atau jiwa manusia.

Penolakan bahwa manusia memiliki jiwa, menyebabkan rancangan konsep dan praktek pendidikan tidak pernah menyentuh jiwa manusia, maka lahirlah orang orang cerdas yang tak punya jiwa, mereka bergerak mekanistik dan robotik tanpa ruh.

Hari ini dunia menyesali sistem pendidikan mereka selama ini hanya melahirkan "human thinking" dan "human doing" bukan "human being". Riset selama 15 tahun terhadap 19 orang alumni terbaik angkatan 90an di Harvard membuktikan bahwa manusia cerdas tanpa jiwa ini hanya menyengsarakan manusia termasuk dirinya sendiri dan alam semesta. 

Ini sesungguhnya tragedi kemanusiaan ketika manusia menjadi penyebab krisis alam dan krisis kehidupan.

Human Being atau manusia seutuhnya (insan kamil) hanya bisa dilahirkan melalui pendidikan yang berangkat dari Human Nature. 

Penolakan atas adanya human nature (fitrah) jelas memunculkan pendidikan yang tidak melahirkan manusia seutuhnya (insan kamil atau human being atau perfect man).

Maka pendidikan manusia harus berbasis kepada fitrah manusia itu sendiri untuk dididik, sejak dirawat sampai ditumbuhkan dan dikokohkan sehingga menjadi manusia seutuhnya. 


3. Di dalam alQuran, kata "fitrah" dalam bentuk "fi'lah" hanya disebut satu kali di QS arRum (30):30, padahal fitrah ini sangat penting apabila dikaitkan dengan fungsi dan misi penciptaan manusia. Ini sekaligus membuktikan bahwa pembahasan fitrah merupakan bahasan yang "urgent & important".

Manusia diciptakan bukan kebetulan, namun dengan maksud penciptaan (the purpose of life), yaitu untuk Beribadah kepada Allah semata dan untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

Maksud penciptaan adalah alasan Allah menghadirkan manusia, namun manusia tentu diciptakan dengan tugas masing masing yang berbeda satu sama lain. Tugas inilah yang disebut the mission of life, yaitu peran spesifik manusia selama di dunia. Inilah panggilan hidup manusia yang harus dijalaninya dengan ikhlash dan jujur.

Darimana kita mengetahui tugas spesifik atau peran spesifik yang merupakan panggilan hidup kita? Jangan khawatir, semua tugas itu secara konsepsi dan potensi telah diinstal dalam diri kita, itulah yang disebut Fitrah.

Fitrah dalam makna lain disebut "alIbtida" yaitu ciptaan unik yang belum pernah dibuat sebelumnya. Keunikan inilah sesungguhnya yang diinstal dan harus dididik agar kelak menjadi peran unik dalam peradaban.

Pendidikan yang tidak berangkat dari fitrah manusia dalam makna ini akan gagal melahirkan generasi yang memiliki peran spesifik terbaik dalam peradaban.

Prof Sir Ken Robinson mengatakan bahwa hanya 2 dari 10 orang di dunia yang jujur pada peran yang sesuai panggilan hidupnya. Ini menyebabkan banyak orang bekerja tidak bahagia dan tidak berkinerja baik.

Depresi, bunuh diri, narkoba, LGBT dll juga disebabkan karena kegalauan manusia yang tidak dididik untuk mencapai peran peradaban sesuai fitrahnya.

Jika seseorang gagal dididik untuk menemukan peran spesifiknya maka tidak akan memenuhi maksud penciptaannya di muka bumi sebagai Hamba Allah dan Khalifah Allah. Maka penting bagi pendidikan untuk berangkat dari fitrah manusia. 

 Salam Pendidikan Peradaban 

 #fitrahbasededucation #pendidikanberbasisfitrah